Alumni FTIP Unpad Kembali Ke Almamater Untuk Bertemu Mahasiswa Baru FTIP 2025.

[Jatinangor, 14 Agustus 2025] – Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) menyuguhkan wawasan penting yang berdampak bagi mahasiswa baru di Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas (PMBF) Hari ke-2. Kegiatan PMBF hari ke-2 ini dihadiri oleh Ikatan Alumni yang ikut serta memberikan inspirasi kepada mahasiswa baru terkait peluang karier untuk mahasiswa di masa mendatang. Selain itu, rangkaian acara juga diisi dengan pematerian tentang pengembangan karakter dan kesehatan mental, talkshow dengan mahasiswa berprestasi Fakultas Teknologi Industri Pertanian , serta pengenalan dasar mengenai Kelompok Kegiatan Mahasiswa (KKM) dan lembaga kemahasiswaan.

Kegiatan utama PMBF hari kedua dimulai dari pukul 08.00 dengan pematerianyang dilaksanakan di tiga gedung berbeda yang ada di lingkup FTIP dengan bobot pematerian yang sama. Dalam sesi utama yang dinanti-nantikan, perwakilan Ikatan Alumni hadir untuk menyampaikan materi mengenai peluang karier bagi mahasiswa baru setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di FTIP. Pematerian tersebut membuka mata mahasiswa baru terhadap sektor pertanian, bahwasannya sektor pertanian bukan lagi pilihan terakhir. Melainkan sektor strategis yang penuh potensi. Lewat cerita perjalanan karier, pengalaman wirausaha, serta pemahamam mengenai grown work dan bisnis, alumni mengajak mahasiswa baru untuk membangun cara pandang baru terhadap dunia pertanian yang lebih inovatif, berkelanjutan, dan berdampak luas.

Meski disampaikan di ruangan yang berbeda, para pemateri dari Ikatan Alumni seakan berbicara dengan satu suara yakni mengajak mahasiswa baru untuk melihat dunia kerja dengan perspektif yang lebih luas, termasuk peluang besar di sektor pertanian. Kang Iqbal Aprio Wandi, Founder PT Sagriva Lestari Sejahtera, memulai dari sudut pandang yang kerap terabaikan. Baginya, pertanian adalah medan yang menjanjikan dan penuh potensi, “Sektor pertanian merupakan salah satu pilihan sektor pekerjaan yang sangat menjanjikan. Bahkan, penghasilan petani bisa lebih tinggi dibanding kerja kantoran,” ucapnya, membantah anggapan bahwa sukses hanya lahir dari dunia kantor. Semangat membuka ruang eksplorasi ini juga ditekankan oleh Kang Rahmat Wira Ardi Putra, seorang professional trainer and coach, yang mendorong mahasiswa untuk tidak membatasi diri pada jurusan kuliah semata. “Prospek karier yang akan diraih oleh mahasiswa tidak selalu berpatok kepada penjurusan kuliahnya. Jadi, eksplor seluas mungkin selagi masih bisa,” pesannya, seolah mengingatkan bahwa masa kuliah adalah waktu terbaik untuk menjelajah berbagai kemungkinan. Sejalan dengan itu, Teh Fannisa Putri, STP., M.I.L., M.Sc pengawas farmasi dan makanan dari BPOM, menambahkan lapisan penting dalam membangun masa depan yaitu keberanian mencoba dan membangun jejaring. “Jangan takut buat coba sesuatu, entah itu lomba, magang, dan lain sebagainya. Perbanyak juga networking, bahkan ke teman sendiri pun termasuk networking,” ujarnya, menggarisbawahi bahwa koneksi adalah modal yang tak ternilai. Dari perspektif dunia kerja yang lebih luas, Kang Arif Rahman senior project manager PT Ako Media Asia mengingatkan bahwa kesuksesan tidak semata ditentukan oleh nilai tinggi atau kesesuaian bidang, “Sukses di dunia kerja ga hanya dimulai dari nilai akhir yang tinggi atau bekerja di bidang yang sama dengan jurusan kita. Ekspektasi yang tinggi bisa berubah jadi tantangan. Kunci yang paling penting adalah kemampuan beradaptasi, menyesuaikan diri dengan segala situasi, dan tetap mau terus berusaha belajar,” jelasnya. Hal senada juga diutarakan oleh Kang R. Indra Nugraha operation director Cargill Food – ASIAN PACIFIC, yang menekankan bahwa perjalanan karier kerap berjalan di luar rencana awal, “Dunia kerja itu perjalanannya panjang dan ga selalu sesuai sama ekspektasi. Terkadang, kita justru bisa berada di posisi atau bidang yang dulunya ga kita kuasai. Dunia kerja juga persaingannya luas, tapi kalau kita punya kepercayaan diri, integritas, dan relasi yang kuat, kita bisa ‘menang’ dan bersaing di tengah orang-orang dari kampus top dan mayoritas sekalipun,” paparnya. Menutup rangkaian pesan, Kang Rizky Ananda,S.T.P.,M.M selaku pengusaha cancimen food menyampaikan kalimat yang singkat namun tetap berpengaruh, “Musuh terbesar kesuksesan adalah alasan dan penundaan,” sebuah pengingat bahwa langkah pertama sering kali lebih menentukan daripada rencana sempurna yang tak pernah dijalankan. Sekumpulan pandangan tersebut membentuk narasi bahwa pertanian bukan lagi sekadar pekerjaan tradisional, melainkan sektor strategis yang menuntut inovasi, kepemimpinan, dan keberanian membangun masa depan dari akarnya di mana teknologi dan pola pikir kewirausahaan menjadi pintu pembuka bagi penghasilan besar dan dampak sosial yang nyata.

Acara dilanjutkan dengan talkshow bersama mahasiswa berprestasi dari berbagai jurusan di FTIP yang membagikan pengalaman mereka dalam mengikuti berbagai program nasional serta tips dalam menjalani perkuliahan. Sesi ini memberikan gambaran nyata bahwa kesempatan untuk berkembang sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang berani mencoba dan berkomitmen. Dan acara ditutup dengan pengenalan dasar mengenai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga kemahasiswaan FTIP, para pengurus mempresentasikan kegiatan, pencapaian, serta manfaat bergabung di dalamnya, sebagai ruang aktualisasi diri, jejaring, dan pengembangan soft skill mahasiswa.

Dengan mengikuti PMBF selama dua hari penuh, mahasiswa baru FTIP tidak hanya diperkenalkan pada lingkungan akademik, tetapi juga dibekali dengan motivasi, wawasan karier, serta nilai-nilai yang akan menjadi fondasi selama masa studi. Kehadiran IKA FTIP dalam PMBF tahun ini memberi warna tersendiri yang membuktikan bahwa alumni bukan hanya produk sukses kampus, tetapi juga mitra inspiratif bagi generasi penerus.

Kini, lebih dari 400 mahasiswa baru resmi memulai perjalanan mereka di FTIP, dengan semangat Focus, Trust, Integrity, dan Professionalism yang menjadi budaya utama fakultas. PMBF bukanlah akhir dari pengenalan, melainkan awal dari kontribusi nyata mereka untuk almamater, masyarakat, dan masa depan pertanian Indonesia