FTIP Unpad dan CESS Bagikan Pengalaman Riset Pertanian Perkotaan Berbasis Warisan Budaya dalam Webinar Internasional FAO

Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran bersama Center for Environment and Sustainability Science (CESS) berpartisipasi sebagai pembicara dalam Webinar Internasional FAO Green Cities Initiative (GCI) bertajuk Cultivating Green Cities: Approaching Urban Agriculture as Heritage for Sustainable Futures yang diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) secara daring.

Bandung's Living Heritage Gemilang Lara
Suasana Daring disaat Dr. gemilang Lara Utama sebagai pembicara menyampaikan presentasinya dalam Webinar Internasional FAO Green Cities Initiative (GCI) bertajuk Cultivating Green Cities: Approaching Urban Agriculture as Heritage for Sustainable Futures yang diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (16/01/2026)

Webinar internasional ini merupakan bagian dari seri FAO Green Cities Initiative yang bertujuan mendorong pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik dalam pengembangan kota yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan melalui integrasi pertanian perkotaan, kehutanan kota, dan bioekonomi berkelanjutan.

Dalam sesi studi kasus Indonesia, Gemilang Lara Utama, Peneliti CESS Unpad sekaligus Dekan FTIP, bersama Mega Nurul Aini, alumni FTIP yang merupakan Koordinator Bandung Urban Agriculture Heritage – The Living Lab, memaparkan hasil riset dan praktik pertanian perkotaan di Kota Bandung yang dikembangkan melalui pendekatan warisan budaya (urban agriculture as living heritage).

Gemilang menjelaskan bahwa Kota Bandung menghadapi tantangan serius dalam ketahanan pangan, mengingat keterbatasan lahan pertanian yang hanya sekitar 0,6 persen dari total wilayah kota serta ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah yang mencapai 96 persen. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan kota terhadap gangguan rantai pasok, perubahan iklim, dan fluktuasi harga pangan.

Melalui pendekatan Urban Agriculture as Heritage yang dikembangkan dalam kerangka proyek internasional INSUAH (Integrated Study on Urban Agriculture as Heritage), Bandung berupaya mengintegrasikan pengetahuan lokal, nilai budaya Sunda, dan inovasi keberlanjutan. Praktik tersebut antara lain tercermin pada sistem pemanfaatan pekarangan, maupun agroekologi berbasis singkong di Kampung Adat Cirendeu, pengelolaan ruang berbasis kearifan lokal, serta penguatan nilai gotong royong dalam tata kelola pangan di rumah tangga maupun komunitas.

Selain itu, program Buruan SAE yang dikembangkan Pemerintah Kota Bandung turut disoroti sebagai contoh konkret sinergi antara kebijakan publik, komunitas, dan akademisi dalam memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Hingga saat ini, ratusan kelompok Buruan SAE telah tersebar di berbagai wilayah Kota Bandung perlu Kembali ditelaah kontribusinya tidak hanya terhadap ketahanan pangan rumah tangga dan inklusi social, namun juga aspek pelestarian lingkungan dan keberanjutan.

Webinar ini juga menghadirkan pemaparan kebijakan FAO terkait pertanian dan peri-urban agriculture di bawah kerangka Green Cities Initiative serta studi kasus dari Havana, Kuba. FAO menegaskan bahwa pengakuan pertanian perkotaan sebagai warisan budaya memiliki peran strategis dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan, kota berkelanjutan, dan aksi iklim.

Keikutsertaan FTIP dan CESS Universitas Padjadjaran dalam forum internasional ini menegaskan komitmen Unpad dalam berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi berbasis riset untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global.

Laporan : Dani Wahdani / Humas FTIP Unpad