Mencoba sesuatu yang baru bukanlah keputusan yang mudah. Namun, bagi Salwa Chairunnisa, mahasiswi Program Studi Teknik Pertanian angkatan 2025, keberanian keluar dari zona nyaman justru menjadi langkah awal yang mengantarkannya meraih gelar Winner Putri FTIP Unpad 2026 sekaligus Delegasi Ter-Photogenic 2026.
Bagi Salwa, Putra Putri FTIP bukan sekadar ajang pemilihan mahasiswa. Ia melihatnya sebagai wadah untuk mengembangkan potensi diri, menyampaikan gagasan, sekaligus membawa isu yang ingin diperjuangkan. Melalui kesempatan tersebut, Salwa ingin menggabungkan ilmu yang dipelajarinya di Teknik Pertanian dengan ketertarikannya pada bidang seni melalui gerakan advokasi yang ingin ia kembangkan.
Dengan membawa misi tersebut, Salwa tidak pernah menjadikan kemenangan sebagai tujuan utamanya. Baginya, proses yang dijalani selama mengikuti Putra Putri FTIP justru menjadi kesempatan untuk belajar, menantang diri sendiri, dan keluar dari zona nyaman.
“Bagi saya, menang bukanlah tujuan utama, tetapi bagaimana saya bisa memaksimalkan kesempatan ini untuk bertumbuh,” ujarnya.
Menyiapkan Diri Lewat Proses yang Panjang
Bagi Salwa, persiapan menuju Putra Putri FTIP dimulai jauh sebelum malam Grand Final. Ia memperdalam berbagai isu, mulai dari literasi digital, lingkungan, hingga kesehatan mental mahasiswa. Selain itu, ia juga melatih kemampuan public speaking, artikulasi, serta membangun kesiapan mental agar mampu menyampaikan gagasan dengan baik.
Persiapan tersebut tidak ia jalani sendirian. Salwa aktif berdiskusi dengan Putra Putri FTIP periode sebelumnya dan bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai fakultas. Menurutnya, proses tersebut membuat dirinya lebih percaya diri sekaligus membuka banyak sudut pandang baru.
Di tengah seluruh rangkaian persiapan, Salwa tetap harus menjalankan perannya sebagai mahasiswi dan staf Kementerian Sosial dan Lingkungan BEM Kema FTIP. Jadwal kuliah, organisasi, dan kegiatan Putra Putri FTIP yang sering kali bertepatan menjadi tantangan terbesar yang harus ia hadapi.
Salwa menilai keberhasilannya tidak ditentukan oleh satu hal saja. Ia menyebut konsistensi selama menjalani proses, rasa percaya diri, serta kemampuan mengelola rasa gugup menjadi bekal yang membantunya menghadapi setiap tahapan seleksi. Di sisi lain, dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga menjadi penyemangat selama mengikuti Putra Putri FTIP 2026.
“Support dari lingkungan sekitar juga menjadi pendorong utama sehingga saya kuat menjalani setiap tantangan,” katanya.

Salwa Chairunnisa memaknai gelar Winner Putri FTIP Unpad 2026 sebagai awal untuk terus belajar dan berkembang. (Foto: Dok. Pribadi).
Kemenangan Bukan Akhir Perjalanan
Selama mengikuti Putra Putri FTIP 2026, masa karantina menjadi pengalaman yang paling membekas bagi Salwa. Ia memperoleh banyak wawasan baru sekaligus belajar dari peserta lain yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda. Sementara itu, malam Grand Final menjadi momen ketika ia merasa seluruh proses yang dijalani terbayar.
Meski berhasil membawa pulang gelar Winner Putri FTIP 2026, Salwa tidak menganggap pencapaian tersebut sebagai tujuan akhir. Baginya, kemenangan hanyalah bonus dari proses yang telah ia jalani sejak awal.
Bagi Salwa, gelar Winner Putri FTIP 2026 bukan menjadi akhir dari proses yang telah ia jalani. Ia justru melihat pencapaian tersebut sebagai awal untuk terus belajar dan merealisasikan gerakan advokasi yang telah ia rancang.
“Pencapaian ini bukanlah akhir dari growth journey saya,” tuturnya.
Pengalaman mengikuti Putra Putri FTIP juga mengajarkan Salwa untuk lebih mampu mengelola mental dan rasa gugup. Ia menyadari bahwa ketenangan menjadi salah satu kunci agar setiap rencana dapat berjalan dengan baik.
Ke depan, Salwa ingin merealisasikan gerakan advokasi yang telah ia rancang sekaligus terus mengembangkan diri agar dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menutup wawancara, Salwa mengajak mahasiswa untuk tidak takut mencoba kesempatan baru. Menurutnya, tidak ada waktu yang benar-benar sempurna untuk memulai sesuatu. “Trust your own pace. Lebih baik gagal setelah mencoba daripada hidup dengan rasa penasaran karena tidak pernah berani melangkah,” pungkasnya. Zahra Ardea Oktaviola (210310250010) [email protected]