Dari Penolakan ke Penerimaan: Perjalanan Priscilla Grace Gladies Menjadi Awardee Bakti BCA 2026

Priscilla Grace Gladies seorang mahasiswi Program Studi Teknik Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran angkatan 2024 berhasil diterima sebagai awardee Beasiswa Bakti BCA tahun 2026. prosesnya tidak singkat, dibalik penerimaan tersebut terdapat sebuah pengalaman ditolak beasiswa sebelumnya, keputusan untuk mencoba kembali, dan upaya mempersiapkan diri secara lebih terstruktur.

Mengenal Bakti Champions dan Awal Perjalanan

Priscilla Grace Gladies yang akrab disapa sisil, saat ini tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad angkatan 2024. Sisil menjalani kegiatan akademik sekaligus aktif di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTIP Unpad dan Radio Unpad.

Beasiswa Bakti BCA merupakan program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dengan orientasi kontribusi sosial. Para penerimanya tidak hanya mendapatkan dukungan finansial, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjalankan proyek sosial bernama Bakti Champions Movement yang fokusnya pada pemberdayaan UMKM di lingkungan sekitar kampus. Program ini berlangsung selama kurang lebih satu tahun dari November 2025 hingga sekitar November 2026.

Sisil pertama kali mengetahui Bakti BCA bukan melalui sosialisasi resmi, melainkan dari postingan media sosial seorang kakak tingkat. Saat itu, Sisil baru saja menghadapi penolakan dari beasiswa lain yang sekaligus menutup pendaftaran untuk tahun berikutnya. Momen tersebut menjadi titik balik bagi Sisil saat melihat unggahan twibbon beasiswa Bakti BCA dari kakak tingkat, Sisil mulai mencari informasi lebih lanjut dan bertanya langsung kepada kakak tingkat.

Sebagai mahasiswa perantau, ia ingin meringankan beban orang tua itulah yang menjadi motivasi awal bagi Sisil untuk yakin mendaftar beasiswa Bakti BCA. Namun setelah mengetahui informasi lebih dalam mengenai program ini, ia semakin menyadari bahwa Bakti BCA menawarkan lebih dari sekadar dukungan finansial.

Persiapan dan Tantangan Seleksi

Ketika pendaftaran beasiswa Bakti BCA 2026 dibuka pada pertengahan tahun sebelumnya, Sisil sudah lebih dulu mempersiapkan diri jauh sebelum tenggat waktu. Persiapan berkas dilakukan lebih awal dibandingkan saat mendaftar beasiswa pertama kali. Sisil juga menjalani latihan psikotes secara mandiri sebagai bagian dari kesiapan menghadapi seleksi, ia menilai kematangan persiapan inilah yang membedakan pengalamannya kali ini dengan pendaftaran beasiswa sebelumnya.

Dalam hal strategi, Sisil menyadari bahwa Bakti BCA secara konsisten mencari calon Awardee yang memiliki orientasi kontribusi, bukan sekedar kebutuhan pribadi. strategi ini ia terapkan dalam sesi wawancara dengan setiap pertanyaan dijawab melalui kerangka berpikir yang bisa memberikan dampak positif bagi orang lain.

Aku menjawab setiap pertanyaan dengan pendekatan ‘user oriented’ dan menjelaskan dampak atau kontribusi apa yang ingin aku berikan kepada lingkungan sekitar.”

Tantangan terbesar selama seleksi yang dihadapi Sisil terletak pada sisi psikologisnya. Pengalaman ditolak sebelumnya meninggalkan perasaan khawatir yang kerap muncul selama proses berlangsung. Sisil mengakui sering mengalami overthinking terkait hasil yang akan diperoleh.

Sisil sangat tegas menghadapi kondisi tersebut dengan bersandar pada dukungan keluarga dan lingkungan sekitar, serta keyakinan yang ia bangun bahwa usaha yang sungguh-sungguh tidak akan sia-sia, apapun hasilnya. Strategi mental ini Ia internalisasi sepanjang proses seleksi.

Pengalaman yang Membentuk Diri

Seluruh rangkaian seleksi yang paling membekas bagi Sisil justru bukan saat dinyatakan lolos, melainkan saat ia berhasil mengendalikan rasa takutnya sendiri. Bagi seseorang yang mengaku rentan terhadap overthinking, kemampuan untuk tetap stabil secara emosional sepanjang proses seleksi merupakan sebuah pencapaian tersendiri.

“aku cukup tidak menyangka bisa mengendalikan rasa takut dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku ternyata bisa. Karena di awal aku sempat kesulitan, tapi pada akhirnya ternyata bisa.”

Mahasiswa penerima Beasiswa Bakti BCA berfoto bersama setelah menyelesaikan salah satu rangkaian acara Bakti Champions 2026.

Sisil bersama awardee lainnya mengemban tanggung jawab dalam menyusun prototype solusi berbasis permasalahan yang dihadapi pelaku UMKM di sekitar Jatinangor dalam program Bakti Champions Movement. Proses ini melatih kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah, serta wawasan menjadi lebih luas tentang ekonomi usaha kecil di lingkungan sekitar kampus.

Pengalaman menjadi word mengubah cara pandang Sisil mengenai beasiswa. Sisil memahami bahwa status bagi champions bukan sekedar label penerima bantuan, melainkan sebuah menjaga komitmen agar memberikan dampak nyata bagi komunitas.

Peran Lingkungan FTIP dalam Pelajaran Akademik

Pengalaman yang paling berpengaruh terhadap perjalanannya ketika keterlibatan Sisil di BEM FTIP Unpad. Bagi Sisil, lingkungan organisasi membangun budaya yang memberikan dampak selaras dengan karakter program Bakti Champions.

Pengalaman berorganisasi di BEM tidak hanya membangun sikap kepemimpinan, tetapi juga membentuk pola pikir dari sudut pandang penerima manfaat. Pola pikir inilah yang kemudian ia terapkan dalam wawancara seleksi maupun dalam pelaksanaan Bakti Champions Movement.

Keterlibatan Sisil di radio Unpad juga menjadi wadah mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja tim. Kombinasi dari kegiatan akademik, organisasi kemahasiswaan, dan program beasiswa tersebut membentuk pola pengembangan diri yang saling menopang selama masa studinya di FTIP Unpad.

Pesan bagi Mahasiswa Lain

Jangan pernah ragu untuk mencoba program pengembangan diri, Sisil mempunyai pandangan dari pengalamannya sendiri termasuk saat Ia gagal. Sisil menekankan bahwa keistimewaan masa kuliah itu terletak pada banyaknya kesempatan kita untuk mencoba hal baru seperti organisasi, kepanitiaan, beasiswa, kegiatan sukarela, dan berbagai wadah lainnya.

Sisil tidak mengabaikan rasa takut, khususnya takut gagal karena hal tersebut wajar dialami oleh siapa pun. Namun, perbedaan yang menentukan berhasil dan tidaknya hanya terletak pada satu hal yaitu keberanian untuk tetap melangkah meski rasa takut itu masih ada.

“Yang paling sering disesali bukanlah kegagalan, melainkan kesempatan yang tidak pernah dicoba. Lebih baik kita melangkah pelan-pelan walaupun masih takut, daripada tidak melangkah sama sekali.”

Bagi Sisil, pengalaman nyata adalah bukti yang paling kuat. (Disya Chitta Elmahdinata [email protected])