[Humas, 16/09/22] Seminar Kolaborasi Seri ke-5 berhasil diselenggarakan oleh PKR Biomassa dan Biorefineri dalam rangka memperingati Dies Natalis FTIP Unpad ke-17 tahun dan Lustrum Unpad XIII pada hari Rabu lalu (14/9/2022). Momen seminar ini menjadi istimewa karena PKR Biomassa dan Biorefineri ikut serta dalam kegiatan Unpad dan FTIP karena Unpad adalah perguruan tinggi pengusul dalam kerja sama dengan BRIN serta FTIP adalah host dari PKR Biomassa dan Biorefineri karena ketua dan tim peneliti utama berasal dari fakultas ini. Tema yang diusung dalam seminar kolaborasi seri ke-5 selaras dengan tema yang diusung Lustrum Unpad XIII dan Dies Natalis FTIP Unpad ke-17 yaitu “Bangkit Lebih Kuat dengan Kolaborasi Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Energi”.
Dekan FTIP Unpad, Dr. Sarifah Nurjanah, membuka seminar kolaborasi ini dengan menyampaikan beragam tantangan yang muncul di bidang pangan dan energi yang khususnya di masa setelah pandemi COVID-19 (post-pandemic). “Beberapa tantangan di bidang pangan yang muncul meliputi perubahan selera makan, perubahan pola konsumsi pangan yang menunjang kesehatan, dan muculnya inovasi-inovasi produk pangan baru selama pandemi. Sedangkan di bidang energi kita ditantang untuk memilih bahan baku yang tepat, khususnya biomassa ini dinilai sangat tepat karena tidak bersinggungan dengan bahan baku pangan dan tantangan lainnya adalah kajian mengenai teknologi ramah lingkungan dan tepat guna untuk produksi energi terbarukan,” ucap Dr. Sarifah. Beliau menyebutkan poin-poin tantangan yang diharapkan dapat terjawab sebagai tindak lanjut seminar kolaborasi ini.

Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Energi” yang digelar secara daring, Rabu (14/9/2022) lalu.
Berbagai narasumber ahli dihadirkan dalam seminar kolaborasi ini berasal dari Unpad dan BRIN selaku kolaborator utama PKR Biomassa dan Biorefineri. Narasumber dari Unpad meliputi Dr. Herlina Marta (FTIP), Dr. Muhamad Fatah Wiyatna (Fapet), dan Hana Nur Fitriana, Ph.D. (FTIP), sedangkan narasumber dari BRIN meliputi Prof. Dr. Euis Hermiati (PRBB – BRIN), Dr. Awalina (PR Limnologi dan SDA – BRIN), dan Roni Maryana, Ph.D. (PR Kimia Maju – BRIN). Adapun moderator yang memandu jalannya seminar ini adalah Dr. Efri Mardawati (FTIP, Ketua PKR Biomassa dan Biorefineri) dan Dr. Muhammad Adly Rahandi Lubi (PRBB – BRIN).
Dr. Herlina Marta, dosen sekaligu Manajer Riset dan Kerjasama FTIP Unpad, menjadi narasumber pertama yang membuka dan memaparkan materinya. Dr. Herlina memberikan paparan mengenai pati termodifikasi hidrotermal dan aplikasinya pada bidang pangan. Beliau mula-mula menceritakan bahwa mitra industrinya membeli pati termodifikasi secara impor dengan harga yang fantastis. “Sumber pati di Indonesia ini sangat melimpah, beberapa di antaranya dapat dihasilkan dari sukun, hanjeli, dan singkong sebagai potensi lokal kita dengan proses yang efisien,” penjelasan Dr. Herlina. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa metode fisik seperti metode hidrotermal memiliki kelebihan karena prosesnnya yang eco-friendly dan tidak menghasilkan produk samping yang berbahaya.
Paparan dilanjutkan oleh Prof. Euis Hermiati, peneliti dari PRBB – BRIN. Prof. Euis menyebutkan bahwa target Indonesia pada tahun 2025 adalah dapat menggunakan sebanyak 23% energi baru dan terbarukan dari total kebutuhan energi nasional. Oleh karena itu, beliau fokus dalam penelitian dan pengembangan pemanfaatan biomassa lignoselulosa, khususnya hasil samping dari produksi bioetanol yaitu memanfaatkan komponen hemiselulosa. Berbagai tantangan dalam pengkajian dan penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan hemiselulosa dijelaskan oleh Prof. Euis.
Sesi pertama ditutup oleh paparan dari Dr. Awalina yang merupakan ahli dan pakar dalam mikroalga. Beliau melakukan penelitian dalam rancang bangun teknologi fotobioreaktor dengan biaya efektif untuk memproduksi biomassa mikroalga. “Konsep biorefineri dapat diwujudkan dalam pengembangan mikroalga karena dapat dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan seperti pangan, pakan, dan bioenergi serta menjadi salah satu wujud nyata dari praktik green industry,” para Dr. Awalina. Di akhir paparannya, beliau menyebutkan kolaborasi yang sedang berjalan dengan Unpad adalah dalam pengembangan limbah organik sebagai sumber nutrisi mikroalga.
Dr. Muhammad Fatah Wiyatna atau Dr. Fatah menjadi narasumber yang membuka sesi kedua pemaparan dalam seminar kolaborasi ini. Beliau merupakan praktisi bioenergi yang mengkonversikan biomassa limbah organik menjadi biogas melalui reaktor biodigester. Dengan konsep biomethagreen yang ditemukannya, sekitar 25 kg biomassa limbah organik dapat terkonversi menjadi 6,1 kWh listrik dengan efisiensi mencapai 35%. Dr. Fatah mengajak para peneliti yang hadir sebagai audiens untuk melakukan kolaborasi penelitian dalam mengembangkan pemurnian biogas agar didapatkan cara praktis dan mudah perawatan serta mengembangkan biodigester berbahan baku limbah pada septic tank sebagai alternatif limbah organik.
Paparan dilanjutkan oleh Hana Nur Fitriana, Ph.D. yang merupakan dosen muda Teknologi Industri Pertanian FTIP Unpad dan saat ini sedang melakukan penelitian post doctoral di BRIN. Beliau memaparkan penelitiannya saat studi doktoral di Korea Selatan yaitu konversi gas-gas rumah kaca menjadi bioenergi dan bioproduk dengan menggunakan biokatalis mikroba. Gas-gas rumah kaca yang dapat menggeser iklim makro dunia ini dapat dijadikan sumber bioenergi terbarukan dengan teknologi ramah lingkungan. Hana kemudian menjelaskan bahwa teknologi yang digunakannya ketika penelitian doktoralnya yaitu stimulasi listrik menjadi teknologi dan metode terbaru yang ramah lingkungan untuk diterapkan di masa depan.
Roni Maryana, Ph.D. menjadi narasumber penutup seminar kolaborasi ini dengan kepakarannya dalam produksi bioetanol. Roni menggunakan tandan kosong sawit yang merupakan limbah biomassa dari komoditas terbesar di Indonesia yaitu kelapa sawit. Saat ini, di PR Kimia Maju – BRIN sedang dikembangkan bioreaktor bioetanol generasi kedua yang harus menjawab tantangan bioreaktor generasai pertama dalam rendahnya efisiensi. Kepakaran beliau berada di proses perlakuan pendahuluan atau pretreatment biomassa sebagai bahan baku produksi bioetanol. Metode steam explosion dengan penambahan gas karbon dioksida memiliki keunggulan dalam biaya lebih murah dan molekul gas dapat menembus pori-pori biomassa. Namun, tantangan yang perlu dijawab adalah digunakannya suhu dan tekanan rendah untuk proses pretreatment biomassa yang harus dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga proses tersebut menjadi murah dan efektif.
Sesi diskusi seminar kolaborasi sangat menarik antusias dari audiens dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memupuk kolaborasi. Sesi diskusi kedua, yang khususnya membahas bioenergi, menjadi sesi diskusi paling aktif karena banyak praktisi bioenergi yang hadir dalam seminar kolaborasi ini. Selain itu, Dr. Awalina tertarik pada penelitian yang dilakukan oleh Hana karena adanya kesamaan dalam menggunakan mikroalga sehingga diharapkan dapat melakukan kolaborasi penelitian yang lebih aplikatif guna menunjang kemandirian pangan dan energi.
PKR Biomassa dan Biorefineri, selain melaksanakan seminar kolaborasi rutin, memiliki beberapa capaian luaran yang dipaparkan oleh Dr. Efri selakuk ketua PKR Biomassa dan Biorefineri. “Alhamdulillah, PKR Biomassa dan Biorefineri saat ini sedang dalam tahap penyusunan buku internasional bereputasi di penerbit Springer dan juga dalam tahap penyusunan buku nasional dengan penerbit Unpad Press yang akan rencananya akan selesai pada bulan Oktober mendatang,” ucap Dr. Efri menutup seminar kolaborasi ini.