Perjalanan Regina Diya Azzahra Berawal dari Rasa Penasaran
“Aku nggak pernah kepikiran semua pengalaman itu akan membawa aku sejauh ini.”
Sulit membayangkan bahwa kalimat tersebut berasal dari Regina Diya Azzahra, atau yang akrab disapa Rere, mahasiswi Program Studi Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran angkatan 2024 yang saat ini aktif menjalani berbagai peran. Selain dikenal sebagai 2nd Runner Up Putri Padjadjaran 2025, Regina juga mengemban amanah sebagai AIESEC in UNPAD Ambassador 2025 dan Sekretaris 1 Himatein UNPAD 2025.
Perempuan asal Bandung ini tidak pernah menyusun target besar untuk mencapai semua pencapaiannya saat ini. Sebaliknya, Regina memulai perjalanannya dari rasa penasaran sederhana tentang bagaimana seorang anak muda dapat menciptakan dampak bagi orang lain.
Sejak duduk di bangku SMP, Regina senang terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Ia menikmati proses bertemu orang baru, berdiskusi, dan memahami berbagai isu yang terjadi di sekitarnya. Ketertarikannya terhadap isu hak anak mendorong Regina untuk bergabung sebagai delegasi kampanye Sekolah Ramah Anak. Dari pengalaman tersebut, ia mulai membuka lebih banyak kesempatan yang membentuk perjalanan hidupnya hingga hari ini.

Ketika Advokasi Anak Membuka Banyak Kesempatan
Tahun 2020 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Regina Diya Azzahra. Saat pandemi COVID-19 berlangsung, ia bergabung dengan Save the Children dan mulai aktif mengikuti berbagai proyek daring yang berfokus pada hak anak dan partisipasi anak muda.
Melalui Save the Children, UNICEF, dan berbagai forum anak, Regina aktif menyuarakan berbagai isu sekaligus membuktikan bahwa anak muda mampu mendorong perubahan di lingkungannya. Ia mulai menyampaikan pendapat, berdiskusi dengan berbagai pihak, hingga menyuarakan aspirasi kepada para pemangku kepentingan.
“Anak muda sebenarnya punya suara yang kuat, as long as we’re willing to use it.”
Bagi Regina, advokasi anak bukan sekadar aktivitas organisasi. Advokasi menjadi ruang yang membentuk keberaniannya untuk berbicara, menyampaikan gagasan, dan memperjuangkan isu yang ia pedulikan. Dari ruang tersebut, Regina menemukan banyak kesempatan yang kemudian membuka jalan menuju berbagai pengalaman baru.
Pernah Merasa Tertinggal di Tengah Banyak Pencapaian
Di balik berbagai aktivitas dan pencapaiannya, Regina Diya Azzahra juga pernah mengalami fase yang penuh keraguan.
Perasaan itu muncul ketika ia memasuki dunia perkuliahan. Lingkungan kampus mempertemukannya dengan banyak mahasiswa yang memiliki pencapaian luar biasa. Ada yang unggul secara akademik, aktif berorganisasi, memenangkan berbagai kompetisi, bahkan membangun bisnis sendiri.
Melihat berbagai pencapaian teman-temannya, Regina beberapa kali membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia terus mengukur perkembangan dirinya dan bertanya apakah ia sudah melangkah sejauh yang ia harapkan.
Namun, semakin lama Regina menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ia berhenti fokus pada pencapaian orang lain dan mulai menghargai proses yang sedang ia jalani.
“Yang kita lihat dari orang lain hanya hasil akhirnya, bukan proses panjang di belakangnya.”
Kesadaran tersebut mengubah cara pandangnya terhadap keberhasilan. Regina tidak lagi berusaha mengejar langkah orang lain. Ia memilih menikmati proses belajar, mengambil kesempatan baru, dan menghargai setiap perkembangan kecil yang berhasil ia capai.
Save the Children Menjadi Titik Balik Perjalanan Regina
Dari berbagai organisasi dan kegiatan yang pernah ia ikuti, Regina menempatkan Save the Children sebagai pengalaman yang paling berpengaruh dalam proses pertumbuhannya.
Saat pertama kali bergabung, Regina masih belajar untuk berani menyampaikan pendapat. Namun, organisasi tersebut memberinya lingkungan yang aman dan suportif. Orang-orang di sekitarnya mendengarkan setiap ide dan aspirasi yang ia sampaikan tanpa menghakimi.
Pengalaman tersebut membuat Regina semakin percaya diri. Ia mulai berani berdiskusi, menyampaikan pandangan kepada stakeholder, dan mengambil berbagai kesempatan lain yang datang dalam hidupnya.

Regina Diya Azzahra 2nd Runner Up Putri Padjadjaran 2025 saat berbicara di depan audiens
Regina menghargai pengalaman ketika orang-orang di sekitarnya mendengarkan dan menghargai suaranya. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk berkembang, menyampaikan gagasan dengan lebih percaya diri, dan mengambil peran yang lebih besar.
Mengapa Regina Diya Azzahra Mengikuti Putri Padjadjaran 2025?
Banyak orang mengenal Regina Diya Azzahra sebagai 2nd Runner Up Putri Padjadjaran 2025. Namun, alasan di balik keputusannya mengikuti ajang tersebut tidak berawal dari keinginan mengejar gelar.
Regina memilih Putri Padjadjaran sebagai ruang baru untuk menantang dirinya sendiri. Selama ini, ia lebih banyak bergerak di dunia advokasi dan isu sosial. Melalui ajang tersebut, Regina ingin menguji kemampuannya sekaligus berkembang di luar lingkungan yang selama ini terasa nyaman.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Pada saat yang sama, Regina juga menjalankan berbagai tanggung jawab lain sebagai Project Officer FTIP Leader Class, Sekretaris Himatein, serta mahasiswa aktif yang tengah menghadapi berbagai tuntutan akademik.
Berbagai deadline datang bersamaan. Rasa lelah dan keraguan beberapa kali muncul. Meski demikian, Regina tetap memilih untuk hadir dan memberikan usaha terbaiknya.
“Hal yang paling berharga bukanlah outputnya, tetapi aku yang berhasil bertahan selama proses itu.”
Selama mengikuti Putri Padjadjaran, Regina membangun kepercayaan dirinya, berani mengambil lebih banyak kesempatan, dan semakin yakin terhadap kemampuan yang ia miliki.
Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa pertumbuhan sering kali hadir ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman.
Menciptakan Dampak bagi Anak dan Orang Muda
Hingga saat ini, advokasi anak dan pemberdayaan generasi muda masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Regina Diya Azzahra.
Sebagai 2nd Runner Up Putri Padjadjaran 2025, AIESEC in UNPAD Ambassador 2025, dan Sekretaris 1 Himatein UNPAD, Regina ingin terus menciptakan ruang yang lebih berpihak kepada anak dan orang muda.
Ia percaya bahwa anak muda bukan hanya penerima kebijakan atau program. Anak muda juga mampu berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan melalui perspektif, pengalaman, dan gagasan yang mereka miliki.
Karena itu, Regina berharap semakin banyak generasi muda yang berani mengambil langkah pertama dan menciptakan dampak dengan cara mereka masing-masing.
“Setiap orang punya kemampuan untuk menciptakan impact dengan caranya masing-masing, as long as they’re willing to take the first step.”
Pesan untuk Anak Muda yang Masih Ragu Melangkah
Jika memiliki kesempatan untuk berbicara kepada dirinya beberapa tahun lalu, Regina Diya Azzahra akan menyampaikan satu kalimat sederhana.
“You’re doing better than you think.”
Berbagai pengalaman yang ia jalani mendorong Regina untuk sampai pada pemahaman tersebut. Dari rasa takut gagal, overthinking, hingga perasaan tidak cukup baik, Regina belajar bahwa banyak kesempatan terbaik justru datang ketika seseorang berani mencoba meskipun belum merasa sepenuhnya siap.
Regina juga memahami bahwa tidak semua hal harus ia rencanakan secara sempurna. Terkadang, ia hanya perlu mengambil langkah pertama dan menjalani prosesnya dengan konsisten.
“Kadang kita cukup melangkah aja dulu, terus percaya kalau prosesnya akan membawa kita ke opportunity yang bahkan belum pernah kita bayangkan sebelumnya.”
Melalui perjalanan hidupnya, Regina Diya Azzahra membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu berawal dari target besar. Terkadang, keberhasilan tumbuh dari rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.
Bagi Regina, perjalanan ini bukan tentang menjadi yang paling hebat. Perjalanan ini adalah tentang terus bertumbuh, terus memberi kesempatan kepada diri sendiri, dan terus menciptakan dampak bagi orang lain, satu langkah kecil dalam satu waktu. (Safira Zifa)